|
Lalu sore beranjak datang mengusir siang. Matahari engkau sangkakan hilang ditelan laut itu. Warnanya merah menyala memenuhi langit. Engkau mengira itu darah yang semburat dari bekas lukanya gigitannya. Dan engkau melihat seorang anak kecil menangis karena takut akan hal itu. Lalu malam datang. Anak-anak kecil itu takut besok pagi tidak bisa melihatnya lagi karena engkau selalu mengatakan bahwa matahari telah ditelan laut sore tadi. Malam merayap pelan. Dan ingatan-ingatan itu menambah suram kenanganmu. Engkau semakin bingung, tidak memahami apa yang terjadi. Engkau tidur mendekap gulingmu yang penuh dengan ceritamu itu. Mungkin guling itu sama dengan laut yang menyimpan banyak kenanganmu yang tertumpah di sana. Bahkan airmatamu yang tumpah kemarin malam. Dan dia begitu setia mendengarmu dan menyembunyukan rahasiamu. Pagi indah datang hari ini. Engkau bangun lebih awal. Menengadahkan tangan meminta kembali hari-hari baru. Tidak seperti yang kemarin. Lalu engkau terkejut ketika melihat hari mulai terang. Engkau berlari menuju lantai atas, bahkan naik ke atap. Lalu engkau melihat yang seperti matahari. Dan engkau benar-benar yakin bahwa itu bukan yang kemarin. Itu benar-benar baru. Dia lebih ceria, lebih hangat. Engkau tersenyum, menyapanya sambil memperkenalkan diri. Dia hanya mengedip sejenak. Hari baru dimulai pagi ini. |
| Leave a Comment: |