Entry: Pandangan Saturday, June 10, 2006



Perempuan itu, aku tidak begitu mengenalnya walau tidak sering melihatnya. Ada hal yang berubah pada anak itu. Dulu dia memang tidak berhijab. Tapi beberapa hari yang lalu, aku melihat dia mulai mengenakan hijab. Kemarin aku bertemu dia. Sepertia banyak yang berubah. Baju putih abu-abu yang dia pakai juga berubah. Tidak seperti yang kemarin. Baru. Ya benar-benar baru. Ketika aku dekat dengannya, aku mencandainya, "Eh..tumben, bajunya rapet. Sejak kapan?"
   "Yaa..kan dah lama. Emang nggak pernah tau apa?" jawabnya dengan tersipu.
   "Takut ama RUU APP, ya?"
   "Yee...siapa takut, enggak lagi."
   "Ngaku deh, pasti karena sekarang lagi mau ada RUU APP?"
   "Ye..., kita mah malah mendukung. Kemarin aja ikut demo."
   "Masa?"
   "Iya."
   "Terus alasannya apa kok berubah gitu?"
   "Yaa...ada deh..want to know aja sih?"
   "Risih ya kalo diliat ama cowok?"
   "Ya iya juga sih. Awalnya sih karena nggak enak dan jadi risih kalo diliat orang, tapi sekarang udah nggak gitu lagi."
   "Terus alasannya apa?"
   "Aku jadi tidak peduli pada pandangan cowok, pandangan manusia. Bahkan kalo sekarang aku pake Jilbab gini, orang lain juga punya pandangan yang berbeda. Ada yang bilang sok alim lah, ada yang bilang latah lah, ada yang bilang paling nggak bertahan lama lah."
   "Iya sih, emang begitu. tapi ya cuek aja lah."
   "Iya, pokoknya aku nggak takut pandangan orang lain ke aku, karena aku hanya takut pandangan Allah."

Aku terdiam mendengar kata terakhir itu. Anak SMU itu, dengan segala keluguannya memiliki pemikiran yang begitu dalam. "Pandangan Allah" sebuah kalimat yang begitu dalam, mengingatkanku pada Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika dia ditanya tentang Ihsan. Bahkan mungkin dia belum pernah mendengar atau hafal hadits itu, tapi dia telah memahami maknanya. "Ihsan adalah apabila kamu menyembah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihatnya, maka sesungguhnya dia melihatmu." (HR. Muslim)

Tanpa ku sadari, mikrolet yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah sekolah. Anak itu pamit, "Kak, duluan ya." katanya sambil keluar dari mobil, lalu membayar ongkos ke supir. Beberapa detik saja, anak itu sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Mobil yang aku tumpangi berlalu, sementara pandangan Allah, pasti selalu mengawasinya. Semoa itu adalah pandangan keridhoan kepadanya.

   2 comments

shafa
July 18, 2008   11:04 AM PDT
 
pertahankan dan Istiqomalah terhadap apa yang diberikan ALLAH pada kita termasuk hidayah
chandra
July 15, 2006   12:27 PM PDT
 
semoga hati2 kita selalu merasa diawasi Allah (muraqabatullah) sehingga tindak tanduk kita selalu berada di jalan-Nya. amin.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments