Liburan panjang kemarin, tiba-tiba saja aku ingin ke Jogjakarta. Ingin jalan2 di Malioboro, ingin ke Kraton, ingin ke Parang Tritis, dan ingin ke Kali Urang. Hari Rabu, jam 20.00 aku baru sampai di rumah, segera mandi lalu berangkat ke Stasiun Pasar Senen. Beli tiket dan masuk ke stasiun.
Hari itu padat sekali, mungkin karena memang ada liburan panjang. Ini adalah kali pertama aku ke Jogja naik kereta. Terasa beda memang. Orang-orang yang beda. Kereta yang penuh manusia, penuh juga dengan obrolan, basa-basi bahkan canda tawa diantara para penumpang yang tentu saja mereka baru saja bertemu. Namun mereka bia begitu akrab.
Hanya sebentar aku di Jogja, aku segera menuju terminal lalu naik bus ke surabaya. Tengah malam aku sampai di terminal Purabaya. Tidak ada lagi bus kota, akhirnya terpaksa naik taksi menuju rumah Kakak. Sudah lama juga tidak melewati jalan-jalan di Surabaya. Banyak yang berubah, semakin ramai, dan seperti kota-kota lain, Surabaya diserbu pusat perbelanjaan yang berdiri megah di mana-mana.
Pagi-pagi. Aku masih duduk di kursi, melihat televisi. AKu terperanjat dengan sebuah berita. Jogja dan sekitarnya tertimpa gempa. masih belum ada data kematian disampaikan, tapi yang jelas sangat dahsyat. Aku teringat 1 hari yang lalu aku berada di sana. Aku ingat semua jalan yang aku susuri di atas becak. Gedung-gedung tua itu terselip di mataku. Begitu cepat terjadi, tidak ada yang tahu, tidak ada yang menduga. Semua terjadi begitu saja. Dan satu hari yang lalu, aku berada di Sana.
aann went on a journey at 05:30 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Aku baru saja duduk di depan meja, menyalakan komputer dan menunggu sebentar. Tiba sebuah panggilan masuk ke teleponku. Nomor asing, entah daerah mana itu. Aku ambil telepon itu dari kantong celanaku, dan, "Halo, im miss Liu..... from Korea. I Want to speak....blaa..blaa....." AKu segera sadar bahwa perempuan di ujung telepon itu telah salah sambung. Aku bahkan tidak punya hubungan kerja atau yang lain dengan perusahaan atau orang Korea. Aku tertawa kecil dalam hati, tapi orang itu terus saja berbicara dengan Bahasa Inggris dengan logat yang aneh.
"Do you know Mr.... "
"What?" Kataku. Lalu dia mengeja satu-satu huruf dari nama yang disebutkan tadi. Aku cepat menebak bahwa dia ingin menyebut nama Slamet eko Prasetyo. Entah siapa dia? Aku semakin ingin tertawa saja. Yang aku tahu di list YMku ada nama Eko Adi Prasetyo, tapi aku yakin bukan dia. Atau jangan2 memang dia? Ah...entahlah.
Aku tahu dia salah sambung, anehnya kami ngobrol beberapa menit. Dia seorang pegawai di Korean Broadcasting System, katanya. Dia ingin menghubungi Slamet Eko Prasetyo, warga negara Indonesia yang menurut dia beberapa bulan yang lalu baru pulang dari Korea. Perempuan itu ingin Slamet kembali ke perusahaan itu. Aku menduga, dia pasti seorang pekerja yang hebat, sampai perusahaan itu ingin menarik dia kembali dari Indonesia.
"Im so sorry mrs. Liu, i cant help you. Right, im an indonesian, but im not Slamet Eko Prasetyo, and i dont know who is he? May be you dialed wrong number.
"Oh..im sorry. However, thank you." Kata perempuan itu, lalau beberapa detik kemudian dia menutup teleponnya. Aku tersenyum sendiri. Ada satu hal yang aku sadari, Bahasa Inggrisku sangat buruk. Kayaknya aku harus ikut kursus Bahasa Inggris, atau paling tidak membuka buku pelajaran Bahasa Inggris lagi.
aann went on a journey at 06:03 pm
Masukan (1) Saran & kritik boljug..
Aku hanya sendirian di dalam mikrolet sepulang dari kantor malam Minggu kamarin. Kendaraan itu melaju pelan mencari penumpang. Pikiranku sibuk sendiri dengan segala hal. Sampai di pertigaan, tiga anak usia SMP naik. Mereka berpakaian rapi, baju koko dan berpeci dan masing-masing menyandang tas ransel. Iseng-iseng aku menanyai mereka, "Mau ke mana, dik?" Seorang anak yang duduk berjarak denganku memasang kupingnya, dia mendekat, "Apa, kak?" tanyanya balik. AKu mengulangi pertanyaanku lagi.
Aku berbicara banyak dalam pertemuan singkat itu. Mereka anak-anak kecil yang begitu semangat. Mereka mengatakan bahwa meraka akan mengikuti pengajian di sebuah masjid malam itu. Mereka mungkin menginap dan pulang besok pagi sehabis shalat Shubuh. Sungguh anak-anak yang penuh semangat keislaman. Mereka mengikhlaskan malam Minggunya, meninggalkan kasur empuknya menuju ubin masjid yang dingin. Meninggalkan televisi atau playstation untuk mencari ilmu, mendengar pengajian dari guru-guru mereka.
Ketika sampai di jalan Matraman, hujan mulai turun. Aku turun dari mikrolet untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain. Aku berteduh di bawah jembatan penyeberangan. Ternyata ketiga anak kecil itu juga berteduh di situ. Lalu sebuah bus datang, mereka bertiga naik dan bus itu membawa mereka.
Pikiranku amsih tertuju pada anak-anak itu. Mungkin mereka orang-orang yang disebut oleh Rasul sebagai pemuda-pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Mereka yang mendapat naungan di hari ketika tiada naungan kecuali naungan dari Allah.
Anak-anak itu masih begitu bersemangat. Aku bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali semangatku sebesar itu. Semangat belajar, semangat menghapal, semangat dakwah. Bantu aku agar semangat itu datang lagi.
aann went on a journey at 05:44 pm
Masukans (3) Saran & kritik boljug..
Beberapa hari yang lalu aku pulang lagi ke kampung. Alhamdu lillah aku bisa memenuhi keinginan untuk sering pulang, bertemu dengan keluarga di rumah. Selain itu juga untuk menghilangkan kebetean, kepenatan hidup di Jakarta. Mencari semangat baru dengan bertemu keluarga. Memang selalu berhubungan melalui telepon atau sekedar SMS, tapi rasanya semua itu berbeda dengan pertemuan langsung. Ada hal-hal yang tidak tersampaikan melalui pesan pendek atau pembicaraan telepon. Pertemuan dengan keluarga selalu saja memberi kenangan tersendiri.
Satu hari di rumah, aku dengar berita ada kecelakaan kereta api. Beberapa teman sms ke aku. "An, di mana nih? masih hidupkah?" mungkin dia pikir aku menumpang kereta yang tabrakan itu. Dan alhamdu lillah aku tidak berada dalam kereta itu. Tapi aku bayangkan waktu kembali ke Jakarta, kereta akan terlambat dan apa yang kurencanakan akan berubah.
Ternyata benar, hari Minggu aku numpang kereta yang sama. Aku berencana hari Senin bisa masuk kantor sesuai jadwal, tapi kereta terlambat datang 5 jam lebih. Biasanya kereta masuk Jakarta pukul 04.00 pagi, tapi kemarin jam 09.30 baru sampai di Jakarta. Langsung saja meluncur ke rumah, lalu tidur. Rencana mo bolos kerja. Tapi baru sebentar tidur, seorang teman dr kantor menelepon, untuk datang ke kantor. Banyak kerjaan katanya, aku janji sehabis jam 13.30 akan datang ke kantor, lalu melanjutkan tidur lagi. Badan terasa lelah.
Jam 13.00 bangun, mandi, shalat lalu pergi ke kantor. Sampai kantor, benar saja setumpuk kertas ada di depan meja siap menunggu dijamah. Nyalakan komputer, dan mulai baggg...bigggg..bugggg.
aann went on a journey at 08:48 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Seharian kemarin jalan-jalan terus. Abis halat zhuhur ke Kwitang nyari buku untuk saudaraku yang di Surabaya. Rencana aku mau pulang hari Kamis ini, kita janjian mo pulang bareng. Dia pulang dari Surabaya, saya pulang dari Jakarta. Dia pesan satu buku, tapi sampe cape nyari ternyata tidak ketemu juga. Pertama aku nyari ke lapak-lapak yang berjajar di kwitang, nanya sana-sini, tapi buku yang dicari tidak ada. Akhirnya malah beli buku-buku lain. 10 buku masuk ke tas.
Yakin tidak ada, aku coba ke Toko buku Wali Songo, nyari-nyari, terus tanya ke penjaganya, ternyata tidak ada juga. Aku keluar dengan kecewa. Tapi aku belum putus asa, aku menuju TB Gunung Agung Kwitang, ternyata tidak ada juga. Dua kali kecewa, pikiranku berputar lagi, kemana aku harus mendapatkan buku itu? Akhirnya aku memutuskan pergi ke Gramedia Matraman, dan langsung menuju ke komputer yang ada di pojok ruangan untuk melihat stok buku tersebut. Ternyata stok sedang kosong. Akhirnya pulang tanpa buku pesanan itu.
Sampai di rumah sudah hampir Maghrib. Baru saja masuk rumah, seorang teman datang dengan membawa sebuah buku, katanya dia tadi juga dari Gramedia, tapi kok nggak ketemu ya? Dia juga mencari sebuah buku, dan di Matraman juga stok sedang kosong. Dia mengajak pergi ke Gramedia Blok M sehabis MAghrib, dengan senang hati aku terima ajakan itu. Akhirnya berangkat.
Sampai di toko buku, kembali mencari, dan kembali lagi kecewa. Benar-benar kosong. seorang pegawai memberi referensi alamat cabang-cabang TB tersebut yang ada di jakarta, diterima saja, tapi rasanya aku tidak akan mencarinya lagi di tempat lain. Aku akan pulang tanpa buku tersebut, dan sebagai gantinya aku bawakan saja buku-buku yang lain dari pengarang yang sama.
Sehabis dari Blok M, langsung ke Masjid Al-Azhar karena ada acara. Sampai jam 23.00 acara baru selesai. Akhirnya pulang ke rumah. Lelah, campur kecewa menggelayuti. Tapi paling tidak aku sudah berusaha dengan keras.
aann went on a journey at 10:15 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Sudah jam 20.00 ketika aku sampai di rumah. Kulihat rumah masih gelap, mungkin teman-teman yang lain belum pulang, pikirku. Aku ambil anak kunci di saku tasku dan mulai membuka pintu. Ternya di dalam ada seorang teman duduk di depan meja sedang membaca diterangi cahaya lilin. Aku heran, dan bertanya kenapa lampunya tidak dinyalakan. Entah dia menjawab atau tidak, aku langsung saja masuk kamar dan menekan tombol untuk menyalakan lampu. Ternyata lampunya mati. Aku keluar lagi, ternyata listrik di rumah diputus siang tadi. Ugh...terbayang menikmati malam gelap hari ini.
Sebenarnya hari Senin sudah mau diberesin ke PLN, ternyata tidak jadi. Semua penghuni rumah pada malas kalau disuruh ke kantor PLN untuk bayar rekening, ya akhirnya gitu deh. Hari ini seorang teman sudah mengurus ke kantor PLN, dan alhamdu lillah semua beres. Ternyata bete juga lama dalam kegelapan. Dan kadang manusia berada dalam kegelapan bukan karena tidak mampu keluar menuju terang, tapi karena tidak ada kemauan, malas.
Di dalam kamar, aku terbaring tanpa ada cahaya, kecuali sedikit sinar dari jendela. Aku justru senang, mungkin dengan gelap, bisa tidur cepat malam itu. Ternyata tidak. Kebiasaanku tidur malam membuat aku kelabakan. Biasanya selalu membaca sebelum tidur, sekarang tidak bisa. Akhirnya aku memutuskan mengobrol sama teman-teman sampai mata ngantuk, lalu kembali ke kamar. Aku tidak bisa membaca Al-qur'an malam itu seperti malam lainnya, Akhirnya aku baca sedikit hapalan dan sampai pada ayat, "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiar mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. " (QS. Al-Baqarah: 17)
Allah mengumpamakan orang-orang munafik seperti mereka yang berada dalam kegelapan karena api yang mereka nyalakan padam. Mempunyai mata, tapi tidak berguna karena tidak bisa melihat. Dan ternyata kegelapan itu sangat menyiksa.Ternyata dalam cahaya, lebih banyak yang bisa dilakukan. Lebih banyak kebahagiaan yang bisa diraih. Keluarlah dari kegelapan menuju terang. Keluar dari kegelapan hati, kegelapan fikiran, kegelapan jahiliyah menuju kejernihan hati, cahaya Al-Qur'an, cahaya Islam. Sebelum tidur, aku banyak sekali berdoa malam itu, aku mulai ngeri lama-lama berada dalam kegelapan.
aann went on a journey at 08:16 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Setiap bertemu, orang itu selalu menanyakan tentang akhir. Misalnya dulu, ketika aku masih kuliah, dia selalu menanyakan kapan kuliahku akan berakhir? Artinya kapan aku akan menyelesaikan skripsi, lalu wisuda. Dan ketika melihat aku dua tahun luntang-lantung di Jakarta, dia juga menanyakan, kapan cari kerja? Yang artinya kapan saya akan mengakhiri masa nganggur dan menggunakan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat, kerja.
Pertanyaan tentang akhir memang kadang sulit dijawab. Mungkin dengan pertanyaan itu seseorang bukannya malah senang, tetapi malah jadi tambah pusing, tambah stress, marah dan balik mengatakan, "Pliss, jangan tanya soal yang itu deh!" Aku sendiri beberapa kali mendapati jawaban seperti ini. Sebuah jawaban yang keluar dari ketidak tahuan akan akhir dari hal yang ditanyakan.
Namun bagi sebagian orang, pertanyaan tentang kahir adalah untuk mengingatkan bahwa kita sedang menuju satu tujuan, dan mungkin kita berhenti dan lupa akan tujuan itu. Tanpa disadari, orang itu mengingatkan kita akan tujuan dengan pertanyaannya itu. Mungkin tidak bisa dijawab, tapi paling tidak ada kesadaran bahwa kita harus kembali bangkit berdiri, dan mulai melangkah lagi menuju akhir itu, yang mungkin bukan akhir sebenarnya, tapi hanya stasiun sementara untuk selanjutnya kita menuju akhir yang lain.
Di dunia ini, semuanya akan berakhir. Diantara pertanyaan-pertanyaan tentang akhir itu, ada pertanyaan besar, kapan dunia ini akan berakhir? Kapan hidup kita akan berakhir? Bagimana kita mengakhiri hidup ini? Pertanyaan pertama dan kedua hanya Allah yang tahu jawabannya, sedang pertanyaan ketiga sebenarnya juga hanya Allah yang tahu. Tapi aku selalu berharap bahwa hidup ini berakhir dengan husnul khotimah, mati dalam iman dan islam, sebuah akhir yang baik.
Aku masih sering bertemu dengan orang itu. Dia masih saja bertanya tentang akhir-akhir yang lain. Dan itu mendorongku untuk menyelesaikan satu-persatu tugasku. Dia selalu saja memotivasiku, mengingatkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang menyebalkan.
aann went on a journey at 02:18 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Jam 21.00 dia kembali menghubungi aku, meminta aku datang ke acara dan menjadi salah satu unsur dalam acara itu. Beberapa hari yang lalu memenag panitia sudah mengirim surat permohonan ke rumah, tapi kebetulan di rumah tadi malam sedang ada tamu juga. Jadi aku meminta maaf dan berjanji untuk datang walaupun telat.
Jam 22.00 aku keluar rumah bersama seorang teman. Tapi dia harus mampir dulu ke tempat teman dia untuk mengambil laptop yang akan diperbaiki. Hampir setengah jam kami di sana, lalu meminta pamit karena ada acara tersebut.
Jam 22.30. kami sampai di tempat acara. Di ruang acara seorang pembicara sedang menyampaikan materi. AKu menunggu giliran berikutnya. Jam 23.00. Pembicara itu keluar. Waktunya aku masuk dan cuap-cuap.
Jam 01.30 acara belum juga selesai. Aku beberapa kali mencoba untuk mengajak peserta untuk menyelesaikan acara. Tapi beberapa peserta masih dengan semangat menyampaikan pertanyaan, menimpali atau bahkan menyanggah. Hari mulai pagi, tapi ruangan itu masih penuh semangat. Kantuk-kantuk itu seakan enggan menghampiri. Jam 01.50. Dengan berat aku mengakhiri acara. Aku perlu istirahat, besok harus masuk kerja, dan rencana malam ini harus datang lagi ke acara tersebut.
Aku melangkah keluar dari gedung itu. Beberapa menit menunggu taksi atau bajaj tidak ada yang melintas. Seorang tukang ojek menghampiriku dan menawarkan mengantar. Setelah tawar menawar, akhirnya aku naik ojek itu. Sepeda motor itu dipacu kencang di jalan sepi malam tadi. Tapi tiba-tiba orang itu menghentikan motornya. aku bertanya ada apa? "Ada operasi di depan." katanya. Aku langsung turun dari motor melihat ke depan. Ternyata di depan memang sedang ada operasi. Ada beberapa motor terlihat diberhentikan. Lalu menawarkan untuk lewat jalan lain aja.
Akhirnya kami kembali berputar. Tapi tukang ojek itu ternyata kembali lagi ke jalan yang sama dengan melalui jalur cepat. Setelah menyarankan untuk pegangan, tukang ojek itu memacu motornya dengan kencang sekali, walhasil kami bisa lolos dari operasi itu. Aku tertawa sendiri dalam hati. Syukur tidak terhadang operasi, bisa jadi masalah.
Jam 02.15 aku sampai di rumah. Tidak bisa lagi kutahan kantukku. Aku lelah, aku pasrah, aku rebah.
aann went on a journey at 01:07 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Hampir tengah malam dia datang mengetuk pintu rumahku. Mataku yang baru saja sejenak terpejam kembali kubuka. Dengan berat aku melangkah menuju pintu, membukanya. Seorang yang aku kenal ada di depan pintu itu. Aku mempersilahkannya masuk. Sebulan yang lalu dia pernah datang pada waktu yang sama.
Aku mengajaknya masuk ke rumah. Biasanya dia minta minum teh dengan sedikit gula. Malam tadi tidak ada teh, gula juga habis. Hanya ada capucino, kacang kulit, roti kelapa, dan beberapa makanan kecil di lemariku. Mataku kembali terbuka. Biasanya kalo sudah datang ke rumah, dia pasti banyak cerita, banyak ceramah. Dan malam ini dia melakukannya lagi.
Hampir subuh dia masih saja begitu bersemangat bercerita. Kantuk yang menggerogoti mataku selalu saja aku tahan-tahan. Kamu tau apa yang dibicarkannya malam itu? Dia berbicara tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Ironis.
aann went on a journey at 05:14 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Aku baru saja selesai shalat maghrib. Masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Mungkin Abis Isya aku baru bisa pulang. Tiba-tiba HPku berdering. sebua pesan masuk, "An, pulang dong. Temenin gue ke Gramed." Begitu bunyi SMS itu. Aku segera membalasnya dan berjanji segera pulang.
Sampai di rumah, dia sudah siap. Aku masih lelah, segera mandi, langsung bersiap-siap berangkat. tapi sudah agak malam, hampir jam 19.30, belum di perjalanan, jam 21.00 kan toko sudah tutup. Aku menawarkan besok saja ke toko bukunya, "Ya udah besok aja, " katanya. Tapi wajah kecewa itu tidak bisa disembunyikan. Aku tidak tega melihatnya, akhirnya aku segera bersiap dan mengajaknya berangkat.
Akhirnya terpaksa ngebut naik sepeda motor. Eh... malah ada pemriksaan lagi. Bebrapa anggota polisi memberhentikan semua pengendara motor. Yahh...terhambat lagi. Tapi alhamdu lillah, semua lancar, semua surat lengkap dan kami diperbolehkan meneruskan perjalanan. Ngebut lagi ke gramed Matraman.
Jam 20.00 dah nyampe, langsung parkir motor dan masuk. Di anak tangga aku bertanya kepadanya mau beli buku apa?. "Mau beli novel Ayat-ayat Cinta." katanya. Beberapa detik kami dah sampai di lantau dua, kami berpencar. Aku melihat-lihat majalah, dia mencari buku yang diinginkannya. Jam 20.45 dia menghampiriku. "Dah dapet bukunya?" tanyaku. Dia menggeleng. "Jadi beli nggak novelnya?" Dia kembali menggeleng. "Eh..An, sini dulu deh. Kayaknya gak jadi beli novel deh, mau beli mushaf Al-Qur'an aja. Pilihin dong!"
Aku mengikuti langkah dia menuju pojok toko buku, dan di rak itu berjajar beberapa mushaf. Aku memilihkan satu unutknya. Mushaf bersampul biru dihiasi tinta emas produksi Damaskus Syria. Entah bagaimana dia juga langsung suka. Beberapa menit kemudian seorang penjaga menhampiri kami, "Maaf mas, sebentar lagi toko mau tutup." Kami saling berpandangan, lalu, "Iya, sebentar pak."
Akhirnya kami melangkah menuju kasir dan membayarnya, lalu kami pulang membawa Ayat-ayat Cinta, tapi bukan novel itu.
aann went on a journey at 02:42 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
| Previous Page | Next Page |