Beberapa hari kemarin aku mendapat pesan untuk membangunkan beberapa teman pada sekitar jam 03.00 pagi. Ada beberapa urusan yang akan mereka kerjakan. Ada yang mau mengerjakan tugas kuliah, ada yang ingin shalat malam, ada yang sekedar mau menelepon temannya. Aku sendiri tidak bisa menjanjikan bisa benar-benar bangun dan membangunkan mereka tepat waktu. Tapi aku sudah mempunyai niat untuk bangun dan mempersiapkan diri dengan memasang alarm di HP, juga memasang reminder.
Belum juga jam 03.00. HPku sudah berbunyi. Tapi itu bukan alarm atau reminder yang aku pasang. Seseorang dengan nomor asing membangunkanku. Aku angkat, tapi dia mematikannya. AKu terduduk di atas ranjang, lalu dengan langkah berat menuju kamar mandi. Membasuh wajah, tangan.....kesegaran merayapiku. Lalu aku kembali. Satu-persatu aku bangunkan mereka dengan meneleponnya. Mendengarkan suaranya sampai yakin bahwa dia benar-benar bangun.
Pagi tadi. Kulihat jam di HP sudah menunjukkan pukul 02.15 menit. Mata ini rasanya tidak kunjung mau dipejamkan. Satu buku telah selesai aku baca dan mulai membaca halaman-halaman awal buku berikutnya. Aku harus tidur, besok harus kerja. Aku matikan lampu dan aku pejamkan mata, akhirnya aku terlelap.
Entah jam berapa HPku berbunyi lagi. Aku abaikan saja karena mataku sangat mengantuk. Sampai subuh datang, adzan terdengar sayup di speaker mushala. Seakan mataku telah dikalahkan oleh kantukku. Bahkan adzan itu tidak mampu mengangkat kepalaku. Aku terlelap kembali. Lalu terdengar lagi suara dari speakre yag lebih jauh. Karena suaranya lebih rendah. Bukan adzan lagi, karena aku sadar subuh sudah lewat beberapa menit lalu. Itu sebuah berita duka cita. Berita kematian. Setelah salam, lalu innaa lillahi wa innaa ilihi rooji'un.
Suara itu walaupun sayup terdengar seperti menyentak telingaku. AKu tergagap bangun dan segera ke belakang mengambil air wudhu. Ya Allah Astaghfirullah... Hamba ini begitu lalai dengan segala nasehat yang kudengar. Mungkin hanya kematianlah panggilan yang bisa menyadarkan. Panggilan pasti yang tidak bisa dihindari. Dan ketika dia memanggil, tidak ada waktu untuk menunda. Bangunlah..sadarlah...dia begitu dekat mengintipmu.
aann went on a journey at 02:58 pm
Masukans (3) Saran & kritik boljug..
Suaranya lembut memenuhi telinga
Nafasnya harum, hangat menyentuh pipiku
Dalam suara lirih diakabarkan berita
Hujan akan datang akhir purnama ini
Setangkai bunga melonjak kegirangan
Tidak terasa sehelai daunnya jatuh
Sehelai daun yang layu sejak seminggu yang lalu
Aku tersenyum melihat semua itu
Sore kemarin angin kembali datang menyapaku
Membawa berita lain
Hujan mungkin terlambat datang
Setangkai bunga di sampingku semakin layu
Wajahnya pucat hampir kering
Aku ambil air, lalu mengguyurnya
Dia terjaga, lalu berkata, "Oh hujan, engkau telah datang."
"Ini bukan hujan, ini aku." kataku
Sore ini angin kembali datang menyapaku
Sebelum sempat berkata, bunga mendahulinya
"Jangan katakan apapun, jangan beritakan apapun."
Angin diam, lalu berlalu pergi.
Aku menerka-nerka apa yang akan disampaikan angin
Mungkin dia akan mengabarkan bahwa hujan tidak akan pernah datang
aann went on a journey at 03:07 pm
Masukans (2) Saran & kritik boljug..
Kemarin, sepulang dari kantor, aku pergi ke sebuah mal untuk mengambil uang di ATM yang ada di sana. Setelah itu, aku naik ke lantai atas. Sebenarnya ingin belanja kebutuhan sehari-hari, tapi pas mau masuk, aku lihat di kasir antrian lumayan panjang. Akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi belanja dan masuk ke toko buku yang juga lumayan rame.
Rupanya benar apa yang dikatakan seorang teman kantor kemarin, bahwa mal-mal penuh sesak dengan orang-orang yang hendak berbelanja. Sehingga untuk membayar di kasir harus rela antri beberapa lama. Untuk persiapan Ramadhan, katanya. Dan mungkin pemandangan seperti itu akan terus berlanjut sampai nanti menjelang Idul Fitri, bahkan akan semangin meningkat.
Yaa..Ramadhan. Inilah waktunya berbelanja. Waktunya menghamburkan uang untuk makanan-makanan yang kadang tidak kita konsumsi di luar bulan ini. Inilah waktunya berbelanja pakaian, sandal, sepatu, perhiasan, pernak-pernik rumah yang serba baru. Inilah waktunya untuk melepaskan semua keinginan. Memenuhi apa yang belum sempat terpenuhi. Jauh dari makna menahan diri. Bukan hanya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa, tapi juga menahan diri untuk menghambur-hamburkan harta.
Aku tidak tahu bagaimana data yang sebenarnya. Tapi melihat ramainya pasar-pasar, mal-mal, mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa tingkat konsumsi di bulan ini meningkat tajam. Hal inilah yang membuat harga-harga naik, karena permintaan akan barang yang tinggi. Mungkin sebentar lagi, kasir-kasir di pusat perbelanjaan akan semakin sibuk. Ratusan orang mengantri untuk membayar barang yang dibelinya. Dan mungkin aku akan berada diantara kerumunan itu. Karena it's shoping time.
aann went on a journey at 01:00 pm
Masukan (1) Saran & kritik boljug..
Sehabis pulang dari kantor kemarin, saya masuk ke kamar. Lalu keluar membawa beberapa potong pakaian kotor dan merendamnya. Seorang teman dengan santai berseloroh, "Makanya cari istri biar gak nyuci sendiri terus." Mungkin perkataan itu hanyalah sekedar gurauan saja. Aku hanya diam sambil terus menuangkan air ke dalam ember. Beberapa menit kemudian seorang teman yang lain masuk. Melihat ada pakaian direndam di belakang, dia berkomentar yang sama. "Makanya nikah, biar ada yang nyuciin."
Kembali aku diam saja. Lalu rebah di atas tempat tidur menikmati rasa lelah. Aku teringat kemarin membaca blog Indra. Aku jadi berpikir sendiri. Kalo sekarang aku biasa melakukan segala hal sendiri, apakah nanti ketika menikah aku akan berubah? Apakah benar kata teman-temanku tadi, kalo aku sudah menikah aku tidak perlu mencuci lagi, menyetrika baju lagi, tidak perlu menyiapkan segala keperluan sendiri?
Mungkin ada perbedaan besar antara beberapa laki-laki dan perempuan, paling tidak dalam pengamatanku setelah mereka menikah. Seorang perempuan yang ketika masih sendiri adalah seorang yang manja, tidak bisa masak, selalu bergantung pada orangtua, setelah menikah menjelma menjadi seorang yang tangguh, sabar, tegar melakukan tugas-tugas yang belum pernah dilakukannya. Dia menjadi orang lain, bukan gadis kecil yang manja seperti dulu.
Sementara seorang laki-laki yang sebelum menikah terbiasa mencuci baju sendiri, menyetrika sendiri, menyiapkan teh, kopi, susu, bahkan belanja sendiri, setelah menikah malah berubah menjadi anak manja yang hanya bisa menyuruh dan menunjuk. Bahkan walaupaun dia tahu istrinya juga bekerja di rumah. Malah mungkin lebih lelah dari dia. Apalagi kalau istrinya juga bekerja di luar, bisa dibayangkan betapa lelahnya dia. Melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, mencari nafkah, mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suaminya juga.
Mungkin itu tidak terjadi pada semua orang. Tapi ada baiknya kita katakan, hormatilah istrimu yang lelah bekerja di rumah, bukan karena dia memilihnya, tapi karena kamu sudah memilih dulu untuk bekerja di luar. Dan kamu tahu bahwa istrimu juga tidak kalah lelah dibanding kamu.
aann went on a journey at 04:51 pm
Masukans (2) Saran & kritik boljug..
Aku baru sadar bahwa pagi sudah hampir datang ketika suara teleponku menjerit-jerit. Aku angkat, tapi seseorang diujung telepon memutusnya kembali. Aku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di luaran, suara azan bersahutan dari segala arah memenuhi setiap ruangan kamar. Suara kadang meninggi seperti hendak menggapai langit. Aku basuh mukaku yang penuh mimpi, dan kesegaran meluapiku.
Setalah shalat, aku duduk di ujung tempat tidur. Sebuah SMS masuk. "An, ternyata benar, kita hanya salah faham aja. Kita sekarang udah baikan lagi." begitu bunyinya. Aku mencoba memahami kalimat itu. Tentu tidak bisa bila aku tidak menghubungkannya dengan pembicaraan pendek kemarin. Sambil menangis dia menceritakan bahwa seorang teman, bahkan seorang sahabat dekatnya telah "berkhianat", begitu kata yang dia pakai.
Dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak bangku Sekolah Dasar, lalu sampai bangku kuliah pun masih satu kampus. Aku tidak ada hubungan dengan semua itu. Tapi aku tentu tidak suka melihat hubungan selama itu hancur begitu saja karena masalah mereka. Aku sarankan untuk klarifikasi. Mungkin mereka hanya saling salah faham. Mungkin mereka hanya menduga-duga saja dari perkataan orang lain, lalu menyimpulkannya secara salah. Akibatnya adalah buruk sangka.
Aku yakin mereka sudah melalui banyak hal dalam rentang waktu persahabatannya. Mungkin in bukan yang pertama. Bahkan mungkin bukan yang terakhir. Akan banyak lagi cobaan persahabatan anatara mereka. Tapi aku senang mereka bisa melalui satu masalah ini. Aku senang mereka kembali akrab. Aku ulangi membca SMS itu. Aku tersenyum lega, lalu tak terasa tertidur lagi.
aann went on a journey at 06:31 pm
Masukans (3) Saran & kritik boljug..
Lalu sore beranjak datang mengusir siang. Matahari engkau sangkakan hilang ditelan laut itu. Warnanya merah menyala memenuhi langit. Engkau mengira itu darah yang semburat dari bekas lukanya gigitannya. Dan engkau melihat seorang anak kecil menangis karena takut akan hal itu. Lalu malam datang. Anak-anak kecil itu takut besok pagi tidak bisa melihatnya lagi karena engkau selalu mengatakan bahwa matahari telah ditelan laut sore tadi.
Malam merayap pelan. Dan ingatan-ingatan itu menambah suram kenanganmu. Engkau semakin bingung, tidak memahami apa yang terjadi. Engkau tidur mendekap gulingmu yang penuh dengan ceritamu itu. Mungkin guling itu sama dengan laut yang menyimpan banyak kenanganmu yang tertumpah di sana. Bahkan airmatamu yang tumpah kemarin malam. Dan dia begitu setia mendengarmu dan menyembunyukan rahasiamu.
Pagi indah datang hari ini. Engkau bangun lebih awal. Menengadahkan tangan meminta kembali hari-hari baru. Tidak seperti yang kemarin. Lalu engkau terkejut ketika melihat hari mulai terang. Engkau berlari menuju lantai atas, bahkan naik ke atap. Lalu engkau melihat yang seperti matahari. Dan engkau benar-benar yakin bahwa itu bukan yang kemarin. Itu benar-benar baru. Dia lebih ceria, lebih hangat. Engkau tersenyum, menyapanya sambil memperkenalkan diri. Dia hanya mengedip sejenak. Hari baru dimulai pagi ini.
aann went on a journey at 12:12 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Waktu benar-benar berlalu. Aku pergi meninggalkan mimpi dan anganku. Aku pergi meninggalkan segala kenangan tentangmu. Aku tidak lagi mengingatmu, merindukanmu, aku seperti tidak pernah mengenalmu Waktu benar-benar berlalu.
Waktu yang lain datang. Engkau diam sendiri dalam dingin rindu musim panas ini. Engkau ingat ketika kaulihat punggungu meninggalkanmu sambil berharap aku menoleh agar bisa melihat wajahku untuk terakhir kali. Dan aku tidak melakukannya. Tiada menyapa, tiada juga menoleh. Aku pergi begitu saja.
Lalu hari-hari yang panjang kaulewati dalam memandangi jalan-jalan yang kulalui sambil mengingat wajahku yang mulai kabur. Engkau bahkan hampir tidak mengenali siapa yang datang. engkau masih saja berharap aku datang menyapamu seperti dulu. Waktu itu pernah kukatakan, tidak ada lagi yang bisa kuceritakan, padahal engkau begitu setia mendengar. Lalu aku benar-benar pergi.
Dan kemarin, aku kembali menyapamu. Aku berharap engkau masih menyimpan mata sayu penuh penantian. Engkau rumahku yang kesepian penuh debu. Aku kembali, mungkin bukan untuk cerita-cerita yang aku rangkai, hanya sekedar kebersamaan, walau hanya diam pucat.
Aku benar-benar kembali. Mulai berbicara denganmu, aku merindukanmu, meminta maaf telah meninggalkanmu. Tapi katamu, "Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu."
aann went on a journey at 06:43 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Jam 17.00 sore. Jalan-jalan itu penuh sesak dengan mobil, bus, sepeda motor, juga pejalan kaki. Mereka berbondong-bondong memenuhi tiap ruas jalan itu. entah ke mana mereka hendak pergi. Mereka seolah-olah takut datang malam sebelum sampai tujuan. Mereka takut malam menangkapnya dan menahannya untuk pulang. Dan aku, aku ada diantara orang-orang itu.
Aku bergegas menyeberangi jalan dengan langkah buru-buru. Sebuah sepeda motor berlari kencang, hampir saja menabrakku. Kudengar sumpah serapah itu, tapi kuabaikan saja. Aku hanya tersenyum kecut sambil terus menapaki sisa jalan.
Adzan maghrib terdengar dari corong speaker mushala kecil di pojok kampung. Aku singgah di situ untuk shalat maghrib. Tapi, hanya sedikit saja jamaah shalat. Ada beberapa anak kecil di belakang. Setelah shalat, aku kembali meneruskan perjalanan pulang. Kulihat rumah-rumah masih sepi. Anak-anak nonton televisi sendirian. Mushala juga sepi. Padahal tadi aku melihat orang-orang bergegas pulang. Entah kemana mereka pergi. Mungkin mereka tidak benar-benar hendak pulang.
aann went on a journey at 03:24 pm
Kasih masukan dung! Saran & kritik boljug..
Aku pernah datang kepada-Mu
Di pagi yang dingin sunyi
Bercakap dalam suara lirih
Lalu kita berpisah setelah pertemuan yang pucat
Aku pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal
Kini aku selalu ingin menyapa-Mu
Bersama-Mu menghabiskan separuh malam
Mohon bangunkan aku ketika awal pagi mulai datang
aann went on a journey at 05:50 pm
Masukan (1) Saran & kritik boljug..
Perempuan itu, aku tidak begitu mengenalnya walau tidak sering melihatnya. Ada hal yang berubah pada anak itu. Dulu dia memang tidak berhijab. Tapi beberapa hari yang lalu, aku melihat dia mulai mengenakan hijab. Kemarin aku bertemu dia. Sepertia banyak yang berubah. Baju putih abu-abu yang dia pakai juga berubah. Tidak seperti yang kemarin. Baru. Ya benar-benar baru. Ketika aku dekat dengannya, aku mencandainya, "Eh..tumben, bajunya rapet. Sejak kapan?"
"Yaa..kan dah lama. Emang nggak pernah tau apa?" jawabnya dengan tersipu.
"Takut ama RUU APP, ya?"
"Yee...siapa takut, enggak lagi."
"Ngaku deh, pasti karena sekarang lagi mau ada RUU APP?"
"Ye..., kita mah malah mendukung. Kemarin aja ikut demo."
"Masa?"
"Iya."
"Terus alasannya apa kok berubah gitu?"
"Yaa...ada deh..want to know aja sih?"
"Risih ya kalo diliat ama cowok?"
"Ya iya juga sih. Awalnya sih karena nggak enak dan jadi risih kalo diliat orang, tapi sekarang udah nggak gitu lagi."
"Terus alasannya apa?"
"Aku jadi tidak peduli pada pandangan cowok, pandangan manusia. Bahkan kalo sekarang aku pake Jilbab gini, orang lain juga punya pandangan yang berbeda. Ada yang bilang sok alim lah, ada yang bilang latah lah, ada yang bilang paling nggak bertahan lama lah."
"Iya sih, emang begitu. tapi ya cuek aja lah."
"Iya, pokoknya aku nggak takut pandangan orang lain ke aku, karena aku hanya takut pandangan Allah."
Aku terdiam mendengar kata terakhir itu. Anak SMU itu, dengan segala keluguannya memiliki pemikiran yang begitu dalam. "Pandangan Allah" sebuah kalimat yang begitu dalam, mengingatkanku pada Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika dia ditanya tentang Ihsan. Bahkan mungkin dia belum pernah mendengar atau hafal hadits itu, tapi dia telah memahami maknanya. "Ihsan adalah apabila kamu menyembah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihatnya, maka sesungguhnya dia melihatmu." (HR. Muslim)
Tanpa ku sadari, mikrolet yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah sekolah. Anak itu pamit, "Kak, duluan ya." katanya sambil keluar dari mobil, lalu membayar ongkos ke supir. Beberapa detik saja, anak itu sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Mobil yang aku tumpangi berlalu, sementara pandangan Allah, pasti selalu mengawasinya. Semoa itu adalah pandangan keridhoan kepadanya.
aann went on a journey at 06:40 pm
Masukans (2) Saran & kritik boljug..
Don't buy Vista Security
| Next Page |